Setiap daerah mempunyai tradisi masing-masing. Begitu juga dengan kota Semarang. Salah satunya adalah tradisi Manten Semarangan. Pengantin (mantenan) Semarang asli merupakan budaya tradisional yang harus dilestarikan keberadaannya.Pengantin Semarangan mempunyai pakaian khas untuk masing-masing mempelai. Pengantin wanita memakai pakaian jawa biru gelap dengan kancing emas dan berkerah Shanghai. Pengantin wanita juga memakai sarung tangan dan kaus kaki dengan sepatu yang berwarna sama dengan pakaiannya. Rambut pada mempelai wanita memakai aksesoris berupa mahkota, beberapa cunduk mentul dengan garis emas, hitam, dan perak. Ada pulaperhiasan di telinga ditambah di dekatkannya dipasang untaian melati dan cempaka kuning.Pengantin pria berpakaian jubah sepanjang lutut dengan pakaian luarnya terbuat dari bludru biru gelap. Kepalanya memakai sorban dan di sisi dipasang untaian melati, cempaka kuning, mawar, dan magnolia. Pada pinggang dikenakan ikat pinggang berwarna kuning dan selempang dipasang dari bahu kanan ke pinggang kiri. Dilengkapi pula dengan sarung tangan putih dan sandal selop. Prosesi mantenan Semarangan, sang penganten putri ditandu di atas Joli dengan gelang emas serenteng, kalung dan giwang gemerlap serta pilis emas di dahinya. Sang penganten putra dengan gagah menunggang seekor kuda, lengkap dengan pedang terselip di pinggang mengiringi sang penganten putri.
Ritual Dugderan

Kata WARAK berasal dari bahasa arab “Wara’i” yang berarti suci dan NGENDOG yang artinya bertelur disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendog bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari lebaran. Ciri khas bentuk yang lurus dari Warak Ngendog ini mengandung arti filosofis tersendiri. Bentuk lurus tersebut menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka, lurus dan berbicara apa adanya. Tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan. Selain itu Warak Ngendog juga mewakili akulturasi budaya dari keragaman etnis yang ada di Kota Semarang. Pada setiap bulan puasa tiba Warak Ngendog mudah dijumpai dalam bentuk mainan khas Kota Semarang yang muncul sekali dan hanya hadir di perayaan tradisi Dugderan. Mainan ini berwujud makhluk rekaan yang merupakan gabungan dari beberapa binatang yang merupakan simbol persatuan dari berbagai golongan etnis warga kota Semarang, yaitu Cina, Arab dan Jawa. Kepalanya menyerupai kepala naga (Cina), tubuhnya layaknya buraq (Arab), dan empat kakinya menyerupai kaki kambing (Jawa).
Munculnya tradisi “Dugderan” yang tetap dilestarikan hingga sekarang. Dimulai pada masa pemerintahan Kanjeng Bupati RMTA Purbaningrat pada tahun 1891 guna menandai dimulainya bulan suci Ramadhan, diselenggarakan upacara dengan membunyikan suara bedug (Dug-dug-dug) dan dentuman suara meriam (Der). Sehingga jadilah istilah Dug-der, dug-deran.Dalam keramaian tersebut dimeriahkan juga dengan mainan anak-anak yang disebut dengan “Warak Ngendog”. Maka tradisi ini tetap dilestarikan hingga sekarang dan menjadi ciri khas budaya Kota Semarang menjelang datangnya bulan puasa bagi umat Islam.
Munculnya tradisi “Dugderan” yang tetap dilestarikan hingga sekarang. Dimulai pada masa pemerintahan Kanjeng Bupati RMTA Purbaningrat pada tahun 1891 guna menandai dimulainya bulan suci Ramadhan, diselenggarakan upacara dengan membunyikan suara bedug (Dug-dug-dug) dan dentuman suara meriam (Der). Sehingga jadilah istilah Dug-der, dug-deran.Dalam keramaian tersebut dimeriahkan juga dengan mainan anak-anak yang disebut dengan “Warak Ngendog”. Maka tradisi ini tetap dilestarikan hingga sekarang dan menjadi ciri khas budaya Kota Semarang menjelang datangnya bulan puasa bagi umat Islam.
Ritual Nyadran

Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, warga Semarang melakukan ritual Nyadran sejak memasuki bulan Ruwah. Nyadran adalah ziarah kubur. Mereka mendoakan arwah leluhur. Pemakaman di Semarang setiap harinya didatangi banyak keluarga untuk mendoakan kerabat mereka yang telah meninggal dunia.
Acara Nyadran itu ada yang dilaksanakan secara pribadi, ada pula yang dilakukan secara serempak satu dusun. Ini seperti yang dilakukan warga Dusun Pucung, Kelurahan Pudak Payung, Semarang, Jumat (27/6) pagi. Ratusan orang datang ke kawasan Sendhang Gedhe—mata air di dusun itu—untuk berdoa bersama yang diakhiri pesta makan bersama.
"Ini bentuk pelestarian budaya untuk mengirim doa kepada arwah leluhur. Di sisi lain, kami membersihkan mata air di sini sebagai wujud memelihara alam. Di sini ada harmoni kehidupan," kata Poerwa Kasmanto, Lurah Pudak Payung.
Sementara itu, sesepuh warga Atmorejo mengajak semua warga untuk selalu mengingat leluhur mereka. Warga di sana percaya bahwa cikal bakal desa itu adalah Kiai dan Nyai Tayem yang dimakamkan di pemakaman di dekat sendang itu.
Dari sisi antropologi, Kiai dan Nyai Tayem adalah sosok pahlawan kebudayaan (culture hero). Orang Jawa kemudian menyebutnya sebagai danyang. Sosok danyang itu dipercaya selalu mengikuti kehidupan perkembangan desa yang pernah dikembangkannya.
Komentar
Posting Komentar